Estranged · Part 2 of 2
The Estragedness-Man
Living Amidst Absurd-World
Oct 18, 2026 · 4 min read
Dia hanya terbangun di pagi hari. Tergeletak di kasur berantakannya. Tanduknnya sedikit menyisahkannya untuk berbaring dengan baik dan bangun. Hanya rasa muak dan kesal yang selalu mampir setiap dua momen itu bangun.
Alarm berbunyi. Dia yang sudah bangun hanya terus berbaring hingga alarmnya mati.
“Sialan” dengus dengan nafas teramat berat. Suara deritan kasur beriringan dengan suara gesekan saat dia bangun.
Cahaya yang merayap dari sela-sela ruangannya, sela yang bahkan sulit untuk dipikirkan memantulkan dirinya di cermin yang berdiri di pojok ruangan.
Mata coklat itu. Bulu itu. Dan tanduk itu. Hidung basah beringus. Semua itu ditangkap oleh matanya. Pemandangan yang sama. Pemandangan uang selalu ia benci. Dia sekali lagi hanya mendengus, mengucek matanya, dan beranjak dari kasur.
Senin, munhkin hari yang membosankan lain. Atau hari mengesalkan lainnya? Entah, pagi itu mungkin terlalu dingin. Dia sudah berdiri di depan aparyemennya dengan pintu sudah terkunci rapi. Seperti biasanya, ia menggantung gantungan bertuliskan “aku masih sibuk, datang lagi nanti, ya” dengan gambar smile dan tanduk rusa di atasnya tergantung miring di gagang pintunya.
“Ohayo, Muraka-san!” Sapa riang seorang perempuan paruh baya. Seorang perempuan cantik, seorang ibu yang giat, terkadang sangat ceria dan usil ke dirinya.
Dia hanya tersenyum, melambaikan tangan seperti biasa saat perempuan paruh baya itu mendekat dan menarik tangan Muraka. “Ini! Nanti dimakan!” Dengusnya sambil menyerahkan sebungkus makanan ke tangan Muraka. “Sana pergi! Dari pada terlambat!”
Perempuan itu hilang di balik pintu apartemennya, saat Mutaka sudah berjalan menuruni tangga.
Di jalan yang sama. Lima tahun lebih tak memiliki perubahan kecuali hanya cat, atau bahkan beberapa ornamen tambahan yang terus berubah. Sementara, semuanya tetap sama.
Dia hanya melihat sekeliling, anak-anak yang bergerombol berangkat sekolah dengan tas-tas besar mereka. Mata mereka indah, mata jernih, putih, dengan pipil coklat. Rambut terurai rapi yang indah.
Jalan trotoar tetap ramai. Seorang pria paruh baya sedang loading barangnya, keringat yang menetes dikulitnya, sementara yang lain pria tampan berlari menuju halte bus di depan, dan segerombol lain anak SMA bercengkrama melewatinya. Kantor, sudah menjulang tinggi.
Hingga…
Suara lift terbuka. Muraka berdiri di tengah pegawai lain. Tanduknya membuatnya harus sedikit membungkuk, yang seperti biasa membuat orang lain juga harus sedikit bergeser memberi ruang hanya untuknya.
Di ujung, meja kerja yang hangat, cerah sudah menunggu dengan rapi. Dia duduk, merapikan mejanya. Name tag, berkas, keyboard, bolpen. Hanya nafas yang ditarik panjang sebelum menekan switch on komputernya sebelum Akechi berteriak, “MURAKAAAA CHANNNN…”
Suara derap pangkah pantofel sedikit memantul di ruang yang luas.
“Tidak sulit menemukanmu! Aku rasa kamu harus bersyukur punya tanduk itu, aku jadi gampang nemuin kamu… dan… kayaknya orang lain juga sama… mereka jadi lebih mudah cari kamu” serunya dengan suara ceria seperti biasa, walaupun ada suara terengah di sela-sela kalimatnya.
Akechi meninggalkan Muraka dengan segelas kopi dan tiket bioskop, dan satu kertas yang terlipat.
Dan suara ketikan keyboard mulai terdengar. Beberapa orang mulai mengobrol, sebagian lain membuat suara yang berbeda. Gema bising itu memenuhi ruangan kecuali mejanya yang lebih sepi.
Beberapa orang sering kali melihat ke arahnya, lebih tepatnya ke atas kepalanya, tanduk.
Beberapa sering kali senyum dan tertawa kecil. Yang kadang membuatnya ngga nyaman. Bahkan malu.
Hingga, matahari sudah mulai tenggelam. Tanpa mengatakan apa pun, dia pergi keluar dengan meja yang sudah kembali rapi, dengan sticky note bergambar rusa lucu yang sering ia gambar di setiap properti miliknya.
Langkahnya membawa dia ke tempat paling ia sukai. Mungkin tempat yang membuatnya lebih nyaman. Sebuah tempat yang membuat dia lebih…
Dia hanya duduk di atas rumput dengan kaki dilipat menempel dada. Ia meringkuk. Sementara sebelahnya seekor rusa terus mengecap makanannya; tidak lama kemudian, beberapa ekor rusa muncul, di antara mereka menempelkan kepalanya ke punggung Muraka.
Dia mengangkat kepalanya, tersenyum dengan tetesan air mata di pipi. “Kamu mirip aku!” Ucapnya sembari menyelus pipi rusa itu sebelum akhirnya tanganya mengelus bagian menonjol di wajahnya sendiri. Dia hanya tersenyum. Sangat tulus. “Arigatou…”
Dan,
“Soko!” Teriakan yang sangat familiar. Akechi berjalan cepat dengan wajah sedikit kesal. “Sudah ku bilang dia malah ke sini” tambahnya. Namun kalimat itu bukan untuk Muraka.
“Filmnya mau mulai 5 menit lagi lhoh! Kamu ngga kasihan sama Imura-chan?” Kata Akechi. Sementara di belakangnya berdiri seorang perempuan. Tangan hanya bertaitan di depan. Senyum yang tulus. Pipi merah.
Muraka hanya berdiri, “kenapa?”
“Ish!” Dengus Akechi dengan menyodorkan kertas yang dilipat. “Aku tahu kamu ngga membacanya! Baca! Dari Imura-chan…”
Get new stories from Fathun Niam by email.



Comments (0)
Sign in to comment
No comments yet. Be the first to write one.