A Man Who Keeps Monasterion · Part 1 of 1
Der Wille
Kehendak yang terlalu Absurd
Oct 18, 2026 · 10 min read
Fromm melakukan sebuah demarkasi antara persepsi libidinal dewasa dan kanak-kanak; pernyataan yang dapat diajukan adalah, apakah kita mencintai seseorang karena kita mnembutuhkannya? atau, kita membutuhkannya karena kita mencintainya? Seharusnya kita tahu, bahwa seharusnya mencintai adalah keterbutuhan kita atas sang Engkau (Thou) bagi Aku (I) karena kita mencintai sang Thou bagi kita. Jika cinta adalah bentuk keterbutuhan yang terbalik, bahwa cinta adalah kebutuhan kita atas orang lain, bukankah relasi semacam itu adalah relasi transaksional?
Metamorfosis Kafka tidak membicarakan sebuah fantasi petualangan seekor serangga raksasa, tetapi sebuah alienasi manusia atas ketidak-berfungsian manusia lain. Bukankah dengan demikian manusia akan sekedar menjadi perkakas, menjada lata, menjadi fungsi lain saja? Ketika manusia, sang anak tak lagi berfungsi bagai orang lain, maka “Seharusnya kita sudah menyingkirkan benda ini.” Bukankah jika kita masukkan pada relasi transaksional, peran manusia dalam komuni misteri antar I-Thou akan menjadi I-It? Jika aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu, maka jika sang I tak lagi membutuhkannya, apakah cinta masih ada? Seharusnya tidak, hanya jika kita menerima persepsi Erkleren semacam itu. Dan dalam kasus kedua, jika cinta menjadi sebab keterbutuhan, maka akan terjadi hal yang sama: jika cinta tak lagi ada, maka seseorang tak lagi dibutuhkan. Apakah kita dapat membedakannya dengan bersih di sini?
Beberapa waktu lalu, saya mendengar seorang agamawan berdiri di atas mimbar memberikan nasihat pernikahan — saya lupa apa yang ia katakan. Namun, saya tahu dia kehilangan istrinya beberapa tahun lalu. Di sebelahku, seorang laki-laki separuh baya menggandeng anaknya, anak dari istri keduanya. Keduanya sama, mereka adalah orang yang ditinggal mati istrinya, dan kemudian, entah bagaimana mereka berpikir untuk menikah dengan wanita yang lain. Saya hanya teringat satu skenario yang pernah saya ajukan, sebuah skenario ‘yang terlalu-ideal’, bukankah manusia tidak dapat digantikan manusia lain? Bukankah seseorang terlalu berharga untuk digantikan? Mengapa mereka bisa menggantikan wanita mereka? Kecuali mereka melihat wnaita mereka sebagai sebuah objek instrumental alih-alih sebagai manusia, subjek yang sedang mereka cintai.
Seorang perempuan datang kepada saya. Ia meminta saya untuk mencarikan seorang laki-laki untuknya. Saya hanya menawarkan agar dia berteman dengan laki-laki, dan memungkinkan dia untuk menemukan seseorang yang akan menarik hatinya, bukan sebuah perjodohan absurd yang terlalu aneh. Demikian itu karena saya rasa, seharusnya pernikahan bukanlah sebuah keharusan, tetapi sebagai sebuah konsesi yang dipilih dua orang yang ingin hidup bersama. Mengapa? Jika kita meletakkan pernikahan sebagai sebuah keharusan-doxic yang harus dilakukan, artinya keharusan tersebut hanyalah sebuah tuntutan konstruktif, bukankah kita hanya sedang mencari instrumen yang akan berperang sebagai It dalam relasi pernikahannya?
Saya tidak memiliki segenap bukti. Tetapi, saya mengandaikan jika demikian itu adalah satu konsekuensi dari bagaimana kita meletakkan sebauh pernikahan di benak kita; Mengapa ada seseorang yang memilih untuk menikah lagi?” Mungkin, secara asumtif adalah, karena seseorang yang memilih menikah lagi, memandang pernikahan bukan sebagai sebuah fasilitas, konsesi yang diberikan oleh otoritas untuk memenuhi instingtif-libido-nya, tetapi hanya sebagai sebuah hukum, nomos yang mendorong kesadaran konstruktif sang inhibitans untuk melaksanakannya sebagai sesuatu yang ia kultuskan sebagai kemuliaan yang harus dilakukan.
Dalam tulisan saya yang lain, “Kiat-kiat Paca-Perpisahan: Misoginis,” saya mengandaikan bahwa pernikahan hanyalah sebuah upaya manusia untuk memenuhi instingnya berupa kehendak erotis-libidonya secara legal-law, secara legal-positive. Hanya karena seseorang beragama — Islam — dan sebuah realitas-sejarah sebagai orang yang hidup di sebuah negara yang mengharuskan sebuah pernikahan — Indonesia — maka seseorang perlu dan harus untuk menikah hanya untuk memenuhinya. Jika tidak, maka secara legal maupun sebuah penilaian normatif mendapatkan segenap evaluasi, segenap sanksi sosial.
Kerja argumentatif itu lahir dari sebuah hierarki-genealogis dalam ruang biologi evolusioner dan asumsi eksistensialistik; dalam satu argumen saya yang lain, dalam “Der Wille zur Fortplanzung: A Naturalistic Selfish Behavior,” yang tak pernah saya terbitkan secara resmi, mengandaikan satu kemungkinan yang jelas, bahwa gejala seksualitas adalah gejala primordial kita sebagai makhluk yang ingin dan senantiasa untuk melanggengkan spesias. Pada taraf replikator, nenek moyang kita memiliki sebuah kesadaran replikasi. Kesadaran tersebut menjadi kesadaran yang egois dan altruis dalam posisi yang rumit. Replikator senantiasa untuk mereplikasi diri. Namun. Replikator yang tak mampu bertahan lama, ia akan mati dengan cepat. Dan, di tengah mereka, tetap memiliki sebuah kesadaran eliminatif untuk menyingkirkan replikator yang cacat. Gejala inilah yang kita dan saya andaikan sebagai satu kesadaran primordial, sebuah upaya melanggengkan spesies — kesadaran akan nurture species.
Namun, dalam bentuk kompleks kita, setelah melampaui segenap evolusi yang teramat panjang, kehendak replikasi tersebut tertransformasi dalam bentuk kopulasi. Di sinilah saya ingin mengatakan, bahwa gejala seksualitas, sejatinya adalah sebuah gejala dari kehendak untuk melanggengkan spesies; saya bergerak lebih jauh. Jika kita meminjam Schopenhauer, manusia memiliki satu kesadaran, yakni kehendak untuk reproduksi. Pertanyaannya, mengapa? Menurutnya, sejatinya manusia memiliki kehendak untuk eksis. Kehendak inilah yang akan melahirkan kehendak untuk hidup — der Wille zum leben. Kehendak untuk hiduplah yang menciptakan segenap ujud dan upaya ragawi: survival. Namun, kenyataan manusia terbatas. Kita akan mati di kemudiann hari. Maka, satu-satunya cara untuk melanggengkan ‘kita’ adalah dengan menekan nilai kita sebagai sang I (aku), sang Art, sang self kepada bentuk-buntuk belakangan, ebntuk egois, yakni keturunan. Menurut Schopenhauer, reproduksi, tidak lain adalah upaya manusia memindahkan segenap nilai I kepada anak-anak kita — Thou. Pada ranah lebih jauh, ini akan menjadi sebab mengapa orang tua memiliki kesadaran egois pada anaknya, namun itu urusan lain dari diskusi kita.
Dari diskusi di atas, kita seharusnya dapat memosisikan sebuah alasan mendasar mengapa kita memiliki sebuah kehendak kopulatif — sebagai manusia yang harus berkopulasi untuk bereproduksi. Namun, saya melangkah lebih jauh untuk menyatakan, bahwa segenap gejala seksualitas tidak bisa dilepaskan dari kenyataan egoistik manusia untuk melanggengkan spesies. Dalam “Der Wille zur Fortplanzung” maupun dalam “Kiat-kiat Pasca-Perpisahan,” saya meminjam istilah pertahanan mekanis Freudian: sublimasi dan displasmen; sublimasi adalah pengalihan suatu tindakan pada tindakan yang lebih bisa diterima baik oleh kita maupun oleh komunitas. Sebagaimana kritik Fromm, menurutnya, Freud meletakkan cinta sebagai sublimasi dari kegagalan manusia untuk seks — kopulasi. Maka, argumentasi saya tidak lebih sebuah kesepakatan atas pernyataan Freud, bahwa cinta adalah bentuk yang lebih diterima daripada seks.
Kegagalan kita atas seks adalah berupa konsekuensi tekanan nilai normatif yang kita telan. Sebagai manusia yang harus beragama — mungkin — demikian juga sebagai manusia yang tumbuh dalam sebuah komunitas yang telah terbentuk oleh hegemoni nilai yang terlalu-sopan dari agama, dan diamini secara legal oleh negara, maka melakukan seks di luar hubungan yang disepakati berupa pernikahan adalah sebuah penyimpangan. Maka manusia — dengan cerdik, mungkin juga licik — menyusun ulang sebuah nilai persepsional yang melaimpaui kerja logis berupa cinta. Tindakan yang akan lebih diterima daripada tindakan kopulasi itu sendiri.
Namun, dalam gejala yang identik, dengan menyusun argumentasi di atas, dan menyususnnya dalam ruang yang lebih kronik: makhluk memiliki kesadaran replikasi, memberi jawaban dari sebuah pertanyaan sederhana: mengapoa aku harus menyukai seseorang, adalah sebab dari kehendak melanggengkan spesies. Artinya, kehendak melanggengkan spesies, secara evolusioner menciptakan sebuah hasrat inklinatif berupa kopulatif. Bentuk dasar ini, kemudian menjelma ke dalam sebuah hasrat dasar untuk tertarik pada segenap seksualitas. Maka, baik cinta maupun perasaan sederhana adalah ujud ragawi, manifestasi dari kehendak paling primordial, bahkan bagi seseorang yang tak mengiunginkan anak. Konsekuensi premis ini akan menyeret, seluruh kehendak seks pada satu gejala melanggengkan spesie — nurture species.
Apa implikaisnya? Seharusnya pernikahan adalah sebuah konsesi, sebuah fasilitas yang diberikan oleh konstitusi dan agama yang bersangkutan kepada seseorang yang hendak memenuhi kebutuhan erotisnya, bukan sebagai sebuah kultur, sebuah nomos, sebuah keharusan-doxic yang perlu dan harus dilaksakan — sebagai bentuk obligasi normatif. Maksud saya, pernikahan seharusnya lahir sebagai fasilitas — karena sebuah konstruksi institutif melarang kopulasi tertentu, tanpa ikatan — untuk seseorang yang ingin memenuhi kebutuhan instingtif libidonya. Ia — pernikahan — lahir setelah dua orang yang ingin hidup bersama eksis. Artinya, jika pernikkahan dipandang sebagai fasilitas, maka gerak pandangannya — persepsi pandangan mereka dalam melihat pernikahan — tidak melihat pernikahan sebagai sebuah keharusan; gerak mereka pasti berawal dari dua orang saling memiliki ketertarikan, kemudian karena mereka beragama, hidup di negara yang memaksa mereka untuk menikah — secara legal sebenarnya bukan pernikahan sakral, negara hanya mencatat mereka secara administratif — maka satu-satunya cara agar hubungan mereka diterima secara legal baik negara maupun nilai sosial kelompok, maka mereka harus menikah. Karena jika tidak, maka mereka akan mendapatkan segenap evaluasi, dan sanksi dari masyarakat.
Artinya, jika pernikkahan dipandang sebagai fasilitas, maka gerak pandangannya — persepsi pandangan mereka dalam melihat pernikahan — tidak melihat pernikahan sebagai sebuah keharusan; gerak mereka pasti berawal dari dua orang saling mencintai, kemudian karena dia beragama, dia tinggal di negara macam ini, maka satu-satunya cara agar hubungan mereka diterima secara legal baik negara maupun nilai sosial kelompok, maka mereka harus menikah. Karena jika tidak, maka mereka akan mendapatkan segenap evaluasi, dan sanksi dari masyarakat.
Sementara, ada sebagian banyak orang yang menganggap pernikahan adalah hukum, tradisi, budaya, sebuah nilai status sosial, sebuah keharusan-doxic yang harus dilaksanakan. Maka pernyataan yang muncul atau mental yang muncul bukanlah ‘aku menikah karena menyukaimu’, tetapi yang: “Umurku sudah sekian, jadi aku harus menikah, maka aku harus mencari pasangan segera.” Gerak ini tidak diawali sebuah ketertarikan dari kedua manusia, tetapi sebuah tuntutan konstruksi, budaya, hukum. Di sinilah mengapa seorang yang ditinggal mati dan memilih menikah lagi, kemungkinan mereka adalah orang yang melihat pernikahan sebagai sebuah tradisi, bukan satu jalan hidup bersama dengan pasangannya.
Mengapa demikian? Saya kira, saya bergerak menjauh dari penjelasan yang terlalu telanjang ini, menuju penjelasan lebi eksistensialistik; Marcel melihat cinta sebagai sebuah kemisteriusan. Ia memisahkan antara Masalah dan Misteri. Jika suatu disebut, dikategorisasikan, diletakkan pada pipet ‘masalah’, maka ‘sesuatu’ tersebut dapat diatasi, sebagaimana masalah manusia mendarat di bulan. Akan tetapi, jika ‘sang sesuatu’ tersebut adalah misteri, maka ia adalah sesuatu yang tidak dapat diatasi.
Andaikan saja sebuah benda berharga. Mengapa kita mengatakannya berharga? Kita mungkin dapat dengan sederhana mengajukan sembarang alasan: hadiah orang tua, memori, dan lain sebagainya. Namun, jika kita ingin mempertanyakannya, kita dapat mengajukan sebuah formusla deduksional; jika kita menghargai sebuah jam tangan karena itu dari orang tua, bukankah kita harusnya menghargai seluruhnya? Mengapa kita hanya memilih satu atau dua atau tida dari seluruh pemberiannya? Pertanyaan yang sama dapat kita ajukan. Saya pernah ditanya oleh kolega saya, seorang agamawan, “Mengapa kau menyukainya? Bukan kah banyak yang lebih cantik?” Jika sebuah alasan, sebagaimana seharusnya cinta menurut Fromm memiliki syarat kecuali cinta keibuan, tetapi pernyataan itu sebenarnya menunjukkan pernyataan sederhana, yakni kebersyaratan tersebut.
Kita uji sebuah kasus berikut tetap dengan kerja deduksi. Jika alasan seseorang mencintai karena kecantikannya, maka, jika kita dapat meletakkan orang yang ada dalam kategori yang sama, mengapa kau memilih A daripada sembarang pilihan yang lain? Dalam sebuah kasus yang lebih sederhana, misal adalah selera musik. Jika Anda melihat saya mendengarkan lagu A Little Piece of Heaven, Hail to the King, Nightmare, Buried Alive, M.I.A., atau bahkan saya bercerita bagaimana Avenged Sevenfold menulis So Far Away, apakah Anda akan menuduh saya menyukai band tersbeut? Jawaban saya adalah tidak. Saya menyukai lagu yang saya sebut sangatlah acak. Jika saya menyukai Avenged, maka secara deduktif, maka saya akan menyukai setiap lagunya. Begitu juga jika saya menyukai genre yang sama, maka saya memiliki kesempatan untuk menyukai lagu dalam kategori yang sama. Namun masalahnya, saya tidak menyukai lagu-lagu tersebut dengan alasan logis. Ketiadaan alasan inilah yang disebut Marcel sebagai sebuah kemisteriusan. Bukankah seharusnya cinta demikian?
Apakah kita dapat menggantikan seseorang? Jika ikatan kita bukan sebuah ikatan misteri tersebut, maka mungkin mudah untuk menggantikan perannya. Di sinilah kita tidak lagi melihat Thou sebagai subjek, tetapi sebagai instrumen dalam sebuah institusi nomos bernama p[ernikahan. Kita tidak meletakkan sang I dan Thou dalam komuni misterius, tetapi dalam sebuah komuni transaksional: aku membutuhkan pasangan — karena umurku sudah memaksaku seharusnya menikah — yang berperan menjadi segenap seseorang yang akan siap dilabeli. Mungkin di sinilah mengapa seseorang dengan mudah menggantikan orang lain, karena dari awal, seseorang tidak meletakkan sang Thou baginya sebagai Thou yang misterius, tetapi sebagai instrumen yang memiliki peran struktural. Namun, tulisan ini juga terlalu mudah untuk mengambil sebuah posisi. Saya mengakui, bahwa manusia seharusnya tidak dapat dibaca secara deduktif seperti kita membaca segenap phenomenon a la positivisme.
Get new stories from Fathun Niam by email.
Comments (0)
Sign in to comment
No comments yet. Be the first to write one.