Sign inGet started

Skrib. A calm place to read and write.

Terms of ServicePrivacy Policy

How Should We Label Every Thou to Us?

A Man Who's Always inherently Alienated

Dr Petrichor

Oct 10, 2026 · 8 min read

Dalam tulisan lebih awal, saya menulis, bahwa kita tidak mampu untuk merasa selesai memahami seseorang hanya dengan melihat eksistensihya. Manusia terlalu absurdis, sebagaimana dunia, kebenaran dan Tuhan. Namun, saya tidak berhenti di sana. Saya mengandaikan, satu-satunya kenyataan yang ada dalam interaksi-interaksi bersama antar manusia adalah menjaga jarak.

Absurditas di sini kembali kepada Albert Camus. Absurditas adalah tegangan (Spannung) antara kebisuan karena ketulian dunia terhadap kehendak-kehendak manusia. Di sinilah dunia menjadi absurd, tidak dapat dipahami. Seperti kata Nietzcshe, kita tak mampu mengandaikan dunia mutlak negatif sebagaimana kata Schopenhauer, ataupun mutlak positif sebagaimana andaian para agamawan.

Lebih jauh, saya menarik istilah absurditas ini ke ruang tuduhan Nietzcshe atas sains (pengetahuan akan kebenaran). Menurutnya, Kebenaran adalah ‘die Gründe’ (dasar) para wanita atau ‘wajah patung mesir yang tertutupi oleh selubung‘ yang—pada dasarnya—tak pernah bisa disingkap. Maka, oleh karena itulah, kebenaran akan selalu tertutupi dan tak mampu dipahami.

Demikian juga dengan Tuhan yang tak mampu untuk dipahami dan diketahui secara absolut. Dan demikianlah manusia. Manusia, terjebak dalam kemenjadian (Werden) yang terus menerus yang meniscayakan pembentukan yang abdi. Maka, manusia tak memiliki form final, kecuali sebuah gerak dinamik ‘untuk menjadi’ tanpa batas. Karenanyalah, seharusnya kita tak mampu untuk mengenali manusia yang sama terus-menerus. Ia—sang Manusia—akan terus belajar, dan dalam pembelajaran itu mengandaikan kebaruan tak terduga bagi kita, sang Aku (I) atas sang Dia yang Thou (Engkau) bagi kita.

Mengapa manusia terjebak dalam keabsurdan? Demikian itu, sebagaimana yang telah saya singgung adalah ketidakselesaian kita dalam kemenjadian; meminjam Heidegger, menurutnya, manusia selalu niscaya mengalami keterlemparan ke-dalam faktisitas. Faktisitas adalah dunia-dunia, adalah fakta-fakta, dialah sang sejarah (Geschichte). Di dalam sejarah inilah yang akan mengandaikan manusia terjebak di dalam kebersamaan untuk ada-bersama (Mitsein) atau ada-di-sana(faktisitas-sejarah)-bersama (Mitdasein) dengan para Liyan (the Others), atau dalam hal ini adalah dengan para Thou (Engkau).

Lantas, apa masalahnya jika kita ada-di-sana-bersama (Mitdasein) bersama para Liyan (Engkau)? Jika saya tarik lebih jauh dari Heidegger, melalui Gadamer,1 ada-bersama memaksa manusia mengalami (experiencing) sebuah perjumpaan-perjumpaan antar I-and-Thou. Masalahnya, menurut Gadamer, setiap subjek telah mengonstruksi segenap pengetahuan dalam benaknya. Pengetahuan inilah yang disebut olehnya sebagai Horizont (cakrawala).2 Apakah kita dapat mengandaikan pengetahuan kita seragam, identik, atau bahkan sama? Tidak.

Jika kita meminjam lebih jauh Gadamer, menurutnya, sejarah membentuk manusia. Ia menyebut manusia dipengaruhi dan mempengaruhi sejarah. Ini yang nanti disebut sebagai Wirkungsgeschichte (sejarah-pengaruh). Sejarah-pengaruh sulit untuk dipahami dengan mengartikannya sebagaiu ‘sejarah-pengaruh’, karena maksudnya adalah apa yang saya jelaskan di awal paragraf ini, ia—yakni sejarah—membentuk pengetahuan manusia, dan manusia dengan pengetahuannya akan mempengaruhi sejarahnya. Sementara, sejarah (Geschichte) ini tidak sebatas sebuah peristiwa,3 melainkan sembarang manusia, dunia dan fakta-fakta.

Penjelasan itulah yang mengandaikan sebuah alasan mengapa manusia ada dalam kemenjadian yang terus-menerus (das ewige Werden), yakni adalah karena sebuah kenyataan perjumpaan-perjumpaan di dalam ada-bersama Thou di dalam sejarah.

Perjumpaan-perjumpaan dalam ada-di-sana-bersama di dalam sejarah meniscayakan sebuah tegangan (Spannung) antara I-Thou. Tegangan yang saya maksud adalah perjumpaan antar pengetahuan-pengetahuan yang berbeda dan mengalami sebuah ketegangan—tension. Ketegangan ini disebabkan oleh ketidaksepakatan akan sesuatu, yang dalam arti lain adalah perbedaan sudut pandang.

Melalui de Saussure, setidaknya kita memahami, mengapa seseorang dapat memahami apa yang kita ucapkan adalah karena kedua penutur sepakat akan sebuah makna (signifié) dari suatu kata (signifiant). Ketidaksepakatan itulah yang menciptakan tegangan yang berupa kesalahpahaman karena adanya dua pengetahuan (horizont) yang saling berhadapan. Ini yang saya sebut sebagai Horizontspannung—tegangan antar horizon.

Namun, tegangan (Spannung) tersbut akan dengan pasti melahirkan sebuah ekspansi pengetahuan (Horizontverschmelzung) di mana sang Thou sebagai sejarah (Geschichte) menjadi pengaruh (die Wirkung) bagi sang Aku (I). Horizontverschmelzung bukan hanya peleburan, tetapi pendidikan, di mana kita, para subjek menelan pengetahuan baru tanpa menghapus pengetahuan sebelumnya. Itu mengapa saya menggunakan istilah ekspansi-pengetahuan.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah kita serap, yang telah kita telan membentuk persepsi kita (Vorverständnis). Persepsi inilah yang kita gunakan untuk membaca dunia, atauWeltanschauung (pandangan dunia). Artinya, saya mengandaikan bahwa pandangan kita dalam melihat dunia bagaikan pengelihatan kita melalui kacamatan bewarna. Pengetahuan yang terbentuk—dari perjumpaan yang bertegangan dan ekspansional—menciptakan kacamata yang kita—akan kita—keenakan: memahami kata ‘Welt, Katze, Hund, Zeit’ atau memaham definisi komunisme adalah produk dari gerak interaksi-Horizontspannung-Horizontverschmelzung-Horizont, bagaimana lingkungan kita, sejarah (Geschichte) kita menampakkan diri di hadpaan kita untuk siap ditelan.

Pemahaman orang Indonesia atas pengkhianatan PKI sebagai definisi komunisme, tidak diciptakan begitu saja, melainkan melalui sejarah4: kekuasaan yang berimplikasi kepada kebijakan dan materi pendidikan. Seseorang yang menyebut Komunisme, Marxisme sebagai ide yang identik bahkan sama, bahkan ‘adalah’ form yang sama, maka kejahatan PKI 48, kerusuhan Aksi Sepihak adalah berakar dari komunisme. Logika silogistiknya sederhana, PKI adalah komunsime (p1), maka jika PKI berbuat jahat (p1), maka Komunisme adalah kejahatan (k); persepsi tersebut adalah produk dari tegangan dan ekspansi Horizont.

Artinya, dalam setiap perjumpaan-perjumpaan, kita akan mengalami tegangan yang melahirkan pembelajaran (Bildung), sebuah ekspansi-pengetahuan. Di mana antar Aku dan Engkau secara resiprokal saling menjadi pengaruh (die Wechselwirkung) satu sama lain. Sementara, perlu dipahami, perjumpaan dengan Engkau (Thou) adalah sebuah keniscayaan yang tidak pernah dapat dihindari. Maka karenanya, pendidikan (Bildung), atau dalam hal ini adalah ekspansi pengetahuan (Horizontverschmelzung) adalah keniscayaan yang tak dapat diatasi—dihindari. Keniscayaan akan pendidikan (Bildung) akan terus memaksa manusia menyerap pengetahuan, sementara pengetahuan terus membentuk persepsi, bahkan cara pandang manusia. Dengan demikianlah, pembentukan akan pengetahuan dan persepsi akan terus ada dalam bentuk kemenjadian terus-menerus yang abadi (das ewige Werden).

Kemenjadian yang abadi inilah yang menjebak manusia dalam kebeluman terus-menerus (Ständige Unabgeschlossenheit). Dalam tafsiran Budi Hardiman, ia menjelaskan kondisi ini dengan contoh metamorfosis, di mana jika metamorfosis sempurna, hewan akan menemukan bentuk selesainya, bentuk final, kahir yang fix. Namun dalam bentuk yang belum (Unabgeschlossenheit), manusia tak akan pernah menemukan titik finalnya. Karena jika ia menemukannya, maka manusia akan selesai, berhenti: artinya tak ada kelupaan, dan tak ada ingatan-ingatan baru. Karena kenyataannya, manusia mengalami dekadensi dan asendensi, bukan hanya ingatan, tapi juga eksistensi.

Kebeluman yang terus-menerus ini lah yang menyebabkan manusia dapat berubah. Seorang yang mengidap hipertrofi atas ideologinya, ia dapat mengalami kemurtadan. Atau sebaliknya, seorang infidel dapat menemukan pencerahannya atas keyakinan-keyakinan baru (UFO, flat earth, alien, Fermi Paradox, atau bahkan anti-Fermi). Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh satu kenyataan, bahwa manusia akan senantiasa ada dalam kemenjadian yang abadi. Maka bagaimana memahami manusia yang terus ‘menjadi’ (Werden) Lantas, apa yang tersisa jika manusia tak dapat dipahami? Menjaga Jarak.


Jarak bukan dalam bentuk fisik, melainkan jarak bagaikan para pekerja positivisme. Mereka memisahkan dirinya dari segenap ‘Thou’ bagi mereka, yakni objek pengamatan. Kita sebagai sang Aku (I) seharusnya hanya dapat berdiri memisahkan diri dari setiap Thou, yang dalam hal ini adalah manusia lain (the Others).

Kita hanyalah para phenomenologist, para fenomenolog yang berdiri mengamati sebuah botol plastik berwarna hijau: bahwa di depanku ada sebuah benda, berbentuk tabung, memiliki tekstur licin, kesat, dengan motif-motif menonjol, berbahan plastik dengan warna yang dapat ditangkap sebagai hijau, tanpa dapat melakaukan sebuah penuduhan terlalu dini bahwa benda tersebut diciptakan dan diberi makna yang melampaui signifié, dalam artian yang demikian adalah intrinsik, adalah sebagai tempat minum (container).

Mengapa? Karena kita terputus dari absolutisme. Jika pun benda itu mengaku dia adalah sebuah wadah, penyimpanan air, maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat memastika nilai-fungsionalnya memang sebagai botol yang menyimpan air? Apakah kita tak bisa mengandaikan makna lain atasnya, sementara pelabelan kita atas benda hijau tersebut sebagai botol (container) adalah pemaknaan kita yang serampangan (arbitrary). Dan bukankah pelabelan-pelabelan ini yang kita lakukan pada setiap bentuk? Manusia, dunia, kejaidan, benda-benda, bahkan segenap fenomenon atau bahkan moralitas.5

Keterputusan inilah yang memaksa hubungan ‘antara’ kita dengan Thou harus berjarak: I and Thou. Bukan karena sebuah sopan santun, karena kenyataannya kita seharusnya tak memiliki sebuah pengetahuan total, menyeluruh akan setiap Thou. Bahkan sains sekalipun yang akan selalu terjatuh ke dalam jurang hipotesa-hipotesa, menjauh dari segala pengetahuian total, pengetahuan akan kebenaran yang menyeluruh. Ia—sains—akan berhenti sebagai sebuah pengandaian, yang akhirnya akan siap untuk difalsifikasi. Artinya? Dia siap untuk diragukan (Incertus), dan siap untuk disalahkan. Pada taraf ini, mungkin data-data yang meruintuhkannya pun bermunculan atau pun tidak. Namun dalam kebertidakan itu, ia tak akan bisa melabeli kebenaran menyeluruhnya.

Keterpisahan antara I dan Thou inilah, jarak tersebut muncul. Jarak yang mengandaikan akan ketidaktahuan akan yang menyeluruh atas sang Engkau. Maka mungkin, kita akan berakhir, dan mungkin seharuysnya demikian, untuk menjadi para fenomenolog (phenomenologist) yang selalu berhenti dalam keberjarakan. Maka konsekuensinya, mungkin sebagaimana andaian Heidegger, makna akan sang Thou hanyalah sebuah belabelan pasca-ketersingkapan sang Engkau melalui penampakan. Dan penampakan tersebut hanyalah berujud eksistensi-eksistensi yang merembes dan memancar keluar kepada sang pengamat.

Kebermaknaan kita bukanlah sebuah pelabelan atau mungkin juga tidak mampu sebatas sebuah pengakuan performatif sang Aku (I) kepada Engkau (Thou) maupun sebaliknya. Akan tetapi, kebermaknaan itu adalah sebuah kebergunaan kita dalam ruang bersama (Mitsein).6 Artinya, makna kita adalah bentuk penampakan yang ditangkap oleh orang lain (the Others) dalam hal ini adalah sang Aku (I) bagi para Engkau (Thou) kita—sulit untuk dipahami, tapi maksudnya adalah: our ‘Thou’.7 Maka prinsip kebermaknaan kita sama dengan para phenomenon (penampakan-penampakan), yakni yang senantiasa ber-phanesthai: kita yang sedang menampakkan diri.

Dalam artian yang paling sederhana, makna, label kita adalah eksistensi kita, penampakan kita kepada dunia luar. Sebagaimana kata Sartre, bahwa eksistensi selalu mendahului esensi kita. Maksudnya, untuk dapat melabeli makna dari seseorang, kita tak dapat menusuk langsung pada klaim sepihak, yakni terhadap esensi seseorang, tetapi kita mampu menyatakan esensinya, dalam hal ini adalah apa yang sedari tadi saya sebut makna atau label, selalu dari eksistensi, bagaimana sang Manusia menampakkan dirinya kepada para pengamat.

  1. Hans-Georg Gadamer adalah murid Martin Heidegger. Mungkin sebab inilah mengapa kita mudah mencari jejak asumsi eksistensialisme Heidegger dalam pembangunan prinsipil Gadamer.

  2. Secara serampangan, horizont sebagai horizon dipahami sebagai cakrawala. Namun, membiarkannya berhentuk untuk dimaknai sebagai ‘cakrawala’ akan malah menyesatkan kita. Maksud cakrawala di sini tentu adalah pengetahuan. Ini dapat dilihat dalam penjelasannya mengenai sejarah-pengaruh (Wirkungsgeschichte). Sejarah yang membentuk manusia inilah yang nanti mengonstruksi persepsi awal kita akan sesuatu. Dari sini saya akan menempatkan 'Horizont sebagai ‘pengetahuan’.

  3. Itu mengapa saya lebih suka menggunakan istilah Geschichte daripada ‘sejarah’, karena dalam pemaknaan kita, signifié kita meletakkan sejarah sebagai peristiwa. Sementara sebagai pengguna Bahasa Indonesia sebagai bahasa Induk, kita memiliki jarak dengan Geschichte, di mana kita tak memiliki pengetahuan akannya, maka dapat dengan arbitrary, saya sendiri melakukan mitologisasi atas kata Geschichte sebagai realitas total: dunia, manusia, fakta, benda-benda, dan lain sebagainya.

  4. Bagian ini akan jauh berbeda, karena kita dapat memulai pembicaraan atas wacana, bagaimana ia dibiasakan, disosialisasikan melalui pendidikan. Pendidikan inilah yang akan melakukan kategorisasi melalui épistémè (mana yang normal dan mana yang tidak).

  5. Sebagaimana klaim Kant atas yang intrinsik. Bagaimana kita dapat menyebut sebuah nilai akan suatu tindakan spesifik merupakan intrinsik? Bagaimana Kant dapat menyakini abhwa apa yang dikatakan sebagai intrinsik adalah yang intrinsik, kecuali pelabelan dia, pemaknaan dia atasnya adalah konsekuensi kerja prinsipil akan yang ‘good without qualification’.

  6. Mitsein sendiri artinya adalah ada-bersama. Demikian itu adalah term yang memang saya ambil dari Heidegger—bukan semata-mata dari bahasa Jerman. Menurutnya, Manusia selalu niscaya mengalami keterlemparan ke dalam faktisitas (dunia-dunia). Keterlemparan itu juga mengandaikan sebuah kepastian yang terlalu niscaya bahwa manusia akan ada bersama, saling berinteraksi, dan mungkin lebih jauh melampaui Heidegger, manusia akan saling bertegangan (Spannung) dan memaksa untuk saling memahami, dan itulah akhrinya, manusia akan terjebak dalam pelebaran horizont-pengetahuan (Horizontverschmelzung), dan mengandaikan manusia ada dalam ‘

  • thinking
  • philosophy
  • existentialism
2

Comments (2)

Sign in to comment

  • testmail · Oct 10, 2026

    Responding to

    Menurutnya, Kebenaran adalah ‘die Gründe’ (dasar) para wanita atau ‘wajah patung mesir yang tertutupi oleh selubung‘ yang—pada dasarnya—tak pernah bisa disingkap. Maka, oleh karena itulah, kebenaran akan selalu tertutupi dan tak mampu dipahami.

    Apakah kata Nietzcshe memang begini? Di mana bukti teksnya, karena kamu tidak memasukkan sitasi terkait?

    • Dr Petrichor · Oct 10, 2026

      Iya! Baca aja di Gay Science, itu bagian pengantarnya. Baca potongan keempat/paragraf keempat.

More from Dr Petrichor

Dr Petrichor· Oct 11, 2026

Apakah Menjadi Miskin adalah Masalah?

Apakah masuk ke dalam dunia hiburan dewasa adalah sbeuah masalah yang perlu untuk di atasi? Tentu, ini memunculkan pertanyaan, “Mengapa seseorang dapat memilih…

7 min read000
Dr Petrichor
kemenjadian yang abadi
’ (
das ewige Werden
).
  • Atau jika kita buat dalam bentuk sederhana, “We are ‘Thou’ to our Thou” di mana our-Thou adalah para subjek Aku (I) yang sama. Dalam artian, Aku adalah Engkau bagi para Liyan (the Others) dan Engkau, yakni kamu—Thou ku—adalah Thou (Engkau) bagiku.

  • · Oct 7, 2026

    Mongol Conquest

    Anyhow. In the north of great China’s dynasties separated beyond a great wall, a child was born in the middle of grassland amidst the great nomad society. Soon…

    2 min read000
    Dr Petrichor· Oct 6, 2026

    Why do Our People easily Arrive with Mystical Conclusio?

    There is an interesting question to discusse: why do Indonesian people so easily jump to mystical conclusion? Take a case like a murderer; there will often be…

    4 min read100
    See all stories