Sign inGet started

Skrib. A calm place to read and write.

Terms of ServicePrivacy Policy

Apakah Menjadi Miskin adalah Masalah?

Biang dari Apa yang Ku Sebut sebagai Demarkasi-Ekonomi

Dr Petrichor

Oct 11, 2026 · 7 min read

Apakah masuk ke dalam dunia hiburan dewasa adalah sbeuah masalah yang perlu untuk di atasi? Tentu, ini memunculkan pertanyaan, “Mengapa seseorang dapat memilih menjadi model dewasa?” Atau sebenarnya di balik sana terdapat sebuah masalah yang lebih subtil, yakni sebuah moda.

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah diskusi mengenai apakah pekerjaan di industri dewasa adalah hal lazim di Jepang; pertanyaan ini dapat diandaikan. Penutur, sang penanya, dia tumbuh dalam ruang sejarah (Geschichte) yang melihat seksualitas sebagai material yang terlalu tabu. Tentu, ada kecenderungan sentris-morfis1 yang mendahului asumsinya: apakah mereka tidak mendapatkan evaluasi dari masyarakat?

Dalam sebuah kesempatan lain, saya mengobrol dengan seorang teman. Saya mengajukan ide perihal komunisme. Pernyataan saya mengenai kemungkinan adanya surplus—melimpahnya—pekerja. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan absurd khasnya, “Apakah pekerja las bawah laut atau pekerja pijat ‘plus-plus’2 akan tetap eksis?” Saya menuduh pertanyaan ini muncul dari keberkelindanan informasi yang ia dapat: ekonomi sosialis yang menuntut adanya surplus produksi dan pernyataan saya mengenai surplus pekerja akibat munculnya banyak kesempatan kerja.3

Saya menjawab dengan sebuah—saya perlu untuk menurunkan tulisan saya pada ranah—asumsi, bahwa alasan masuk akal satu-satunya yang mendasari mengapa seseorang mau menjual tubuhnya adalah karena ia perlu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Saya kira, negasi yang akan datang untuk mengajukan kontra atas pernyataan saya, yaitu: “Tidak, karena di luar sana ada orang yang melakukan pekerjaan itu hanya untuk berfoya-foya,” saya kira tidak akan valid. Masalah yang menjadi sorotan saya adalah masalah dasar ekonomis bukan hanya sebatas maslaah moralitas maupun inklinasi moral teologis. Mungkin yang coba diruntuhkan adalah pernyataan ‘mereka menjual tubuh untuk memenuhi kebutuhan’, karena mereka membandingkannya dengan sebuah fakta material, bahwa ada orang yang melakukan hanya untuk mengumpulkan harta.

Kontras tersebut bisa jadi saya andaikan akan datang dari prinsip hukum doktriner, mengenai masalah kedaruratan; bisa jadi prinsip itu berguna, walaupun pada taraf ini juga akan tetap dihukumi salah. Namun, poin adanya eksistensi prinsip hukum doktrinari inilah yang membentuk persepsi pra-reflektif kita dalam mencandra pernyataan saya di atas.

Saya kesulitan untuk menjelaskan alur logis dari kemungkinan tersbut; saya tidak ingin mengatakan ada orang yang memperbolehkan—mungkin—bekerja dalam ruang ini—pekerja seks—tetapi permasalahannya adalah klaim yang saya ajukan: untuk memenuhi kebutuhan hidup, di mana ada kemungkinan seseorang hanya ingin memperkaya, artinya tindakan tersebut adalah haram.

Namun, saya tidak pusing meletakkan tujuan yang terlalu subtil tersebut, saya tidak dapat mengandaikan intensi seseorang. Namun satu-satunya kenyataan yang dapat saya jelaskan adalah, ruang kapitalis meniscayakan kebutuhan hidup kita terkomodifikasi. Konsekuensinya, benda-benda yang menopang keberlangsungan hidup kita, yakni kebutuhan, adalah material, benda guna bernilai yang eksklusif. Seseorang memerlukan sebuah kemampuan previlese berupa kepemilikan akan capital (modal) untuk mendapatkannya.

Konsekuensi komodifikasi inilah yang meniscayakan seseorang untuk mendapatkan uang, dengan cara bekerja. Poin masalah dalam bagian ini bukan perihal jenis pekerjaan, kesmepatan kerja, tetapi masalah mendasar mengenai sistem uang yang menciptakan demarkasi ekonomis dari memunculkan sistem capital modal (uang).

Atas alasan demikian, saya mengatakan, dalam masalah prostitusi ini, bahwa pekerjaan tersebut diambil adalah atas sebuah alasan untuk ekonomi, untuk mendapatkan uang; uang inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masalah dia menghamburkannya, itu masalah lain—masalah moralitas normatif-doktrineri.

Saya lebih jauh mengatakan kepada teman saya, bahwa artinya, jika sistem uang tidak ada lagi, kebutuhan hidup tidak lagi dikomodifikasi, maka atas alasan apa seseorang masih menjual tubuhnya, kecuali dia berjiwa ‘lonte’.

Mengapa pernyataan tersebut juga muncul? Jika moda ekonomi kapitalis menghendaki akan produksi komoditas, barang guna bernilai, maka ide komunisme-Marxean adalah meletakkan kebutuhan tersebut sebagai sebuah material pokok. Produksi bukan untuk menciptakan komoditas bernilai, melainkan guna memenuhi kebutuhan hidup manusia—gratis. Dalam artian lain, setiap manusia telah dan pasti mendapatkan kebutuhannya.

Maka, jika manusia dapat memenuhi kebutuhannya secara gratis, tidak ada alasan manusia untuk bahkan perlu menjual tubuhnya hanya untuk hidup.

Artinya, dari sini, permaslaahan yang subtil tersebut telah sampai ke permukaan, yakni masalah sebuah gir moda yang masih dan tetap bergerak secara banal; kita merasa tidak lagi dan perlu untuk mempermasalahkannya.

Beberapa waktu lalu saya berbicara dengan seseorang. Obrolan itu membawa kami pada sebuah percakapan mengenai ‘gratefulness’, bahwa mungkin orang perlu untuk cukup dan merasa cukup atas apa yang ia peroleh. Pernyataan itu diajukan sebagai respons pernyataan saya, bahwa siklus ekonomi kita tidak sehat: jika kita bandingkan, satu kali gaji di Indonesia, anggap saja UMR 6 juta—di mana ini adalah angka paling tidak adil, karena kenyataan mayoritas daerah masih di bawah 5 juta—untuk hari ini, hanya dapat membeli 3 kali paket langganan Claude AI Max Plan, 3 bulan sebesar 5 juta rupiah.

Sementara, jika kita bandingkan dengan gaji di Amerika, anggap saja 4,000 dolar per bulan atau anggap 1,200.00, maka satu bulan gaji mereka dapat untuk membeli 1 tahun langganan Claud AI—atau 3 tahun dengan gaji 4,000.00 dolar.

Poin saya adalah, ekosistem ekonomi kita—untuk orang yang bekerja di negara dengan kekuatan ekonomi rendah—buruk. Barang kebutuhan kita naik; beberapa waktu lalu seseorang mengeluh harga ayam perkilo tembus 56.000 rupiah, belum lagi harus mempertimbangkan masalah kebutuhan lain: makan, tempat tinggal, kendaraan dan transportasi, maka berapa banyak kesempatan kita untuk dapat menabung?

Saya mengatakan kepadanya bahwa sepertinya, gaji kita hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kita, tapi tidak untuk memanusiakan kita—memenuhi hasrat kita; saya lebih jauh membawa contoh, ambil saja sebuah perangkat keras, kartu grafis NVIDIA RTX 5090. Harga benda itu bisa menembus 120 juta. Berapa tahun seseorang yang tinggal dengan kekuatan ekonomi buruk bisa membelinya? Dan itu pun satu perangkat keras.

Namun, mungkin apa yang Anda—pembaca—bayangkan sekarang sama dengan apa yang dikatakan orang itu. “Namun, semakin tinggi gaji, semakin tinggi beban kerjanya” Namun, bukan itu poinnya. Poinnya jelas, masalah ekonomi. Ia mengajukan kontra argumen dengan mengajukan sebuah pertanyaan retoris: apa yang menjadi prioritas kita? Memenuhi kebutuhan atau hasrat (will). Saya hanya menjawab beberapa poin yang telah saya sampaikan lebih awal sebelumnya.

Kita perlu menyadari bahwa masalah kita ada di beban pemerintah. Walaupun dalam banyak kesempatan saya mengandaikan sistem komunis.

Dalam kesempatan yang berbeda. Terdapat seorang agamawan. Ia menyampaikan, bahwa seharusnya hidup adalah untuk disyukuri. Kita seharusnya hidup bukan untuk menimbun harta. Secara performatif dia bilang, ketika orang-orang mencoba untuk mengejar-ngejar dunia—menimbun harta—kita bisa sederhana, cukup, tapi tujuan kita adalah akhirat. Dalam kesempatan yang berbeda, seseorang bisa mengatakan, kebahagiaan tidak selalu dengan uang.

Masalah materialnya adalah, kita memerlukan sesuatu yang disebut harta untuk bisa hidup, bahkan uang adalah satu-satunya alasan untuk memenuhi kebahagiaan itu; walaupun saya tetap andaikan kerja pendefinisian ulang atas makna bahagia—bisa jadi mereka membengkokkan kebahagiaan itu hanya pada Tuhan atau membawa contoh orang kaya yang bunuh diri.

Namun, bagaimana degan orang miskin yang mati kelaparan? Tentu realitas ini perlu kerja eklektisme untuk kebutuhan inklinatif-doktrineri agamawan. Atas alasan itu, mungkin Marx dan mungkin juga Ken Buddha S memiliki pandangan kritis atas agama: “Agama adalah penenang masyarakat—dari kesadaran-kesadaran kelas yang seharusnya muncul”, “Surga telah mematikan perhatian kita akan penderitaan-penderitaan yang seharusnya diatasi” karena demikian itu hanyalah hal fana bagi meraka.

Kapitalisme menjadi masalah subtil yang tak kentara. Mark Fisher menyebut keadaan ini sebagai realitas kapitalis, di mana kita tak lagi mampu mengandaikan adanya sistem politik dan ekonomi lain selain kapitalisme. Bahkan mungkin juga Anda; sementara kapitalisme menjadi biang masalah kita: produksi komoditasnya telah menciptakan pemisahan antara orang berduit dan orang miskin. Dengan demikian, orang yang mati kelaparan hanya karena sebuah sistem aturan elitis. Dan yang jahat adalah kita yang tak sadar akan kapitalisme dengan menyalahkan inadequacy individu: “makanya jangan miskin” sementara masalahnya terlalu mendasar, sebuah sistem!

Setidaknya, dengan mengandaikan kapitalisme sebagai kejahatan adalah bentuk sopan-santun kita.

  1. Sebuah kecenderungan untuk menyederhanakan positioning akan sebuah masalah di luar tubuh—sebuat saja sang Engkau (Thou)—sang subjek—sebut saja sang Aku (I)—sama dengan diri sang subjek—Aku; sentris sendiri merujuk pada pusat, dan morfis aadalah bentuk. Sentris-morfis adalah term yang saya ajukan untuk menyebut gejala penyederhanaan yang kerap kali dilakukan oleh subjek dengan cara mengandaikan setiap Thou sama bentuknya dengan dirinya—termasuk dengan sejarahnya.

  2. Pekerja seks komersial. Walaupun dalam bentuk praktisnya, terdapat tempat pijat yang menawarkan jasa ‘lebih’, yaitu pelayanan seksual.

  3. Saya perlu sedikit menjelaskan posisi saya; Alan Wood dalam pembukaan Manifesto Parti Komunis, mengandaikan jika saja pemodal membuka kesempatan lebih banyak pekerja, maka bisa saja akan menciptakan belasan ribu hingga puluhan ribuan lapangan pekerjaan; dalam konteks ekonomi sosialis-Marxis, ia mengandaikan keharusan untuk mencabut hukum upah besi dan segenap hukum transaksi. Semua orang pada akhirnya akan harus bekerja, bukan untuk uang tetapi untuk masalah paling dasar, memenuhi kebutuhan sosial yang demikian termasuk dirinya. Di sinilah kemungkinan terjadi ledakan pekerja. Maka saya mengandaikan, bisa jadi, banyak sektor yang mendapati banyak pekerja. Dengan demikian, bisa jadi malah munculnya pengurangan jam kerja akibat ledakan pekerja—atau malah dengan adanya otomisasi. Anda bisa lebih jauh membaca tulisan saya dalam, Muhammad Fathun Niam, “Sebuah Dunia Baru: Kesadaran Komunitas Banalis.”

  • economy
  • capitalism
  • communism
0

Comments (0)

Sign in to comment

No comments yet. Be the first to write one.

More from Dr Petrichor

Dr Petrichor· Oct 10, 2026

How Should We Label Every Thou to Us?

Dalam tulisan lebih awal, saya menulis, bahwa kita tidak mampu untuk merasa selesai memahami seseorang hanya dengan melihat eksistensihya. Manusia terlalu…

8 min read120
Dr Petrichor
· Oct 7, 2026

Mongol Conquest

Anyhow. In the north of great China’s dynasties separated beyond a great wall, a child was born in the middle of grassland amidst the great nomad society. Soon…

2 min read000
Dr Petrichor· Oct 6, 2026

Why do Our People easily Arrive with Mystical Conclusio?

There is an interesting question to discusse: why do Indonesian people so easily jump to mystical conclusion? Take a case like a murderer; there will often be…

4 min read100
See all stories